Pemetaan Awal Risiko Rantai Pasok Global: Studi Kasus Impor Hidrokarbon Indonesia dari Kawasan Teluk dan Iran.
- ISI Secretariat
- 2 days ago
- 8 min read
Updated: 22 hours ago
Oleh: Arrozaq Ave

Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran dan koalisi Amerika Serikat–Israel pada akhir Februari telah menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas rantai pasok global. Dampaknya mulai terlihat pada pasar energi dunia. Pada 9 Maret 2026, harga minyak Brent menembus USD 110 per barel, jauh di atas asumsi harga minyak dalam APBN 2026 yang dipatok sebesar USD 70 per barel.

Gambar 1. Harga Minyak per Barel. Brent Crude Oil
Lonjakan harga energi ini segera memicu berbagai respons kebijakan. Pemerintah mulai mempertimbangkan penyesuaian fiskal untuk menjaga stabilitas defisit anggaran. Dalam beberapa simulasi, kenaikan harga minyak hingga USD 92 per barel saja berpotensi mendorong defisit APBN hingga 3,6 persen terhadap PDB, melewati batas fiskal 3 persen yang diatur dalam undang-undang.
Dampak gangguan rantai pasok juga mulai dirasakan oleh sektor industri. PT Chandra Asri, salah satu produsen petrokimia terbesar di Indonesia, mengumumkan kondisi force majeure akibat potensi gangguan pasokan bahan baku setelah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Perusahaan petrokimia berbasis di Singapura, Aster, juga mengumumkan kondisi serupa. Gangguan ini terutama dipicu oleh meningkatnya risiko terhadap jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz.
Situasi tersebut menunjukkan pentingnya memahami kerentanan rantai pasok Indonesia terhadap dinamika geopolitik global. Pemetaan risiko menjadi krusial untuk mengidentifikasi komoditas strategis yang berpotensi terdampak, terutama yang berasal dari kawasan dengan tingkat ketegangan geopolitik tinggi.
Produk Hidrokarbon dan Relevansinya
Kawasan Asia Barat Daya atau Timur Tengah dikenal sebagai pusat produksi hidrokarbon dunia, termasuk minyak bumi, gas alam, serta berbagai produk turunannya. Gangguan produksi maupun distribusi di kawasan ini dapat memicu dampak luas terhadap perekonomian global. Bagi sebagian masyarakat, minyak dan gas mungkin identik dengan bahan bakar kendaraan atau gas untuk memasak. Namun sebenarnya, hidrokarbon juga menjadi bahan baku utama bagi berbagai industri strategis. Banyak produk turunan yang digunakan dalam kegiatan manufaktur hingga pembangunan infrastruktur.
Salah satu contohnya adalah polietilena (PE) dan polipropilena (PP), yang merupakan turunan minyak dan gas yang digunakan untuk memproduksi kantong plastik, kemasan makanan, hingga komponen otomotif. Produk penting lainnya adalah aspal, turunan minyak bumi yang menjadi bahan utama pembangunan infrastruktur jalan di Indonesia.
Untuk simplifikasi, yang akan dipetakan pada artikel ini hanya mencakup Minyak Mentah (HS2708), Minyak Suling (HS2710), Gas (HS2711), Sulfur (HS2503), Ethylene Polymers(HS3901), Amonia (HS2814), Urea (HS3102), dan Aspal (HS6807). Berdasarkan data dari OEC, berikut persentase yang diimpor Indonesia dari negara-negara teluk yang dirangkum dalam tabel berikut:
Tabel 1. Impor (HS17) Indonesia dari negara teluk tahun 2024 (M US - % to Indonesia Import) Sumber OEC
M USD /persentage to Indonesian Import | Minyak Mentah (HS2708) | Minyak Suling (HS2710) | Gas (HS2711) | Sulfur (HS2503) | Ethylene Polymers(HS3901) | Amonia (HS2814) | Urea (HS3102) | Aspal (HS6807)
|
Arab Saudi | 2050 / 20.6% | 825 / 3.87% | 382 / 10.3% | 123 / 27.6% | 120 / 6.57% | - | - | - |
Iran | - | - | - | - | - | - | - | - |
Kuwait | - | - | 243 / 6.55% | 32.6 / 7.35% | - | - | - | - |
Bahrain | - | 92 / 0.43% | - | 6.06 / 1.37% | - | - | - | 0.260 / 0.84% |
Oman | - | 384 / 1.8% | - | 0.535 / 0.12% | - | - | - | - |
Qatar | - | 124 / 0.58% | 404 / 10.9% | 58.1 / 13.1% | - | - | - | - |
Irak | - | 19.7 / 0.092% | - | - | - | - | - | - |
PEA | 74.5 / 0.75% | 691 / 3.24% | 385 / 10.4% | 6.87 / 6.22% | 113 / 25.4% | - | - | - |
Indonesia total impor | 9.950 | 2.130 | 3.710 | 443 | 1.830 | 21.3 | 211 | 31 |
*Tanda minus menandatakan transaksi yang sangat kecil/tidak signifikan
Perlu digarisbawahi bahwa untuk komoditas minyak mentah pada tabel diatas, sumber impor Indonesia relatif terdiversifikasi. Pemasok terbesar berasal dari Nigeria dengan nilai impor sekitar USD 2,56 miliar atau sekitar 25,7 persen dari total impor. Negara Afrika lainnya seperti Angola, Gabon, dan Aljazair juga memiliki porsi yang cukup signifikan, masing-masing sekitar 16,7 persen, 10,4 persen, dan 3,85 persen. Secara umum, struktur ini menunjukkan tingkat diversifikasi yang cukup baik, terutama di tengah meningkatnya eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Meski demikian, impor dari Arab Saudi tetap cukup besar, yakni sekitar USD 2,05 miliar atau 20,6 persen dari total impor minyak mentah Indonesia.
Untuk produk minyak hasil penyulingan, kontribusi negara-negara Teluk relatif tidak besar. Impor Indonesia pada komoditas ini didominasi oleh Singapura (Isu lain tentang tantangan struktural dalam kapasitas pengilangan domestik Indonesia). Sementara itu, untuk gas alam, terutama LPG, Indonesia banyak mengimpor dari Amerika Serikat dengan porsi yang melebihi 50 persen. Namun demikian, jika digabungkan, empat negara Teluk tetap menyumbang porsi yang cukup signifikan, yaitu lebih dari 35 persen dari total impor gas Indonesia.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya diversifikasi sumber pasokan untuk mengurangi risiko ketergantungan terhadap kawasan tertentu. Salah satu cara untuk mengukur tingkat diversifikasi ini adalah melalui Herfindahl–Hirschman Index (HHI), yang digunakan untuk melihat tingkat konsentrasi pemasok dalam suatu pasar. Berdasarkan pendekatan tersebut, derajat diversifikasi impor beberapa komoditas strategis Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut.
Tabel 2. Olah Data HHI dan Potensi Kerentanan
| Indeks HHI | Kontribusi Impor | Keterangan |
Minyak Mentah (HS2708) | 0.166 | HHI 0,166 menunjukkan sumber impor Indonesia relatif terdiversifikasi, namun masih didominasi oleh beberapa negara utama seperti Nigeria, Arab Saudi, dan Angola yang secara kolektif menyumbang lebih dari separuh impor. Dengan kontribusi impor sekitar 30–35% terhadap kebutuhan domestik, ketergantungan Indonesia terhadap pasokan eksternal tetap signifikan. Gangguan politik, konflik regional, atau disrupsi logistik pada salah satu pemasok utama berpotensi menimbulkan volatilitas harga dan risiko pasokan. | |
Minyak Suling (HS2710) | 0.335 | Nilai HHI sebesar 0,335 menunjukkan ketergantungan besar pada pemasok tertentu yakni Singapura dan menyumbang lebih dari separuh impor. Dengan kontribusi impor sekitar 34% terhadap kebutuhan domestik, stabilitas pasokan BBM Indonesia sangat dipengaruhi oleh ketersediaan produk kilang di Singapura serta kelancaran jalur distribusi regional. | |
Gas (HS2711) | 0,306 | HHI sebesar 0,306 menunjukkan konsentrasi tinggi, dengan struktur pasar yang didominasi oleh Amerika Serikat yang merupakan sumber impor terbesar LPG Indonesia. Dengan kontribusi impor mencapai 75–80% terhadap kebutuhan domestik, tingkat ketergantungan Indonesia terhadap pasar global sangat tinggi. | |
Sulfur (HS2503) | 0,174 | Nilai HHI sebesar 0,174 menunjukkan pemasok yang relatif lebih beragam dibandingkan komoditas energi lainnya. Namun kontribusi impor yang mencapai sekitar 75% dari kebutuhan domestik menunjukkan ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan luar negeri. Negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab merupakan pemasok penting sulfur global. | |
Ethylene Polymers(HS3901) | 0,128 | HHI sebesar 0,128 menunjukkan struktur pasar yang relatif kompetitif dengan pemasok yang terdiversifikasi. Pasokan impor berasal dari berbagai negara seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia. Meskipun kontribusi impor sekitar 45% dari kebutuhan domestik cukup besar, tingkat HHI rendah mengindikasikan risiko pasokan yang lebih terbatas dibandingkan komoditas energi. Namun demikian, pasar polimer tetap sensitif terhadap fluktuasi harga minyak dan petrokimia global karena sebagian besar bahan bakunya berasal dari industri hidrokarbon. | |
Amonia (HS2814) | 0.918 | Secara struktural, kontribusi impor amonia terhadap kebutuhan domestik sangat kecil (sekitar 0,4%). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pasar impor sangat terkonsentrasi, dampaknya terhadap ketahanan pasokan nasional relatif terbatas. | |
Urea (HS3102) | 0,680 | Meskipun demikian, kontribusi impor terhadap kebutuhan domestik hanya sekitar 2%. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar impor bersifat sangat terpusat tetapi tidak kritis bagi ketahanan pasokan nasional, | |
Aspal (HS6807) | 0,235 | Nilai HHI sebesar 0,235 menunjukkan konsentrasi moderat yang mendekati kategori tinggi. Impor aspal Indonesia terutama berasal dari negara-negara Asia seperti Tiongkok dan Malaysia yang secara kolektif menyumbang lebih dari 60% pasokan. Dengan kontribusi impor sekitar 80% dari kebutuhan nasional, tingkat ketergantungan terhadap pasokan luar negeri sangat besar. Hal ini membuat sektor infrastruktur jalan rentan terhadap fluktuasi harga aspal global serta potensi gangguan logistik atau perubahan kebijakan perdagangan dari negara pemasok utama. |
**Mendekati 0 sumber impor beragam, mendekati 1 sangat bergantung pada satu atau 2 negara. Statistics Netherland mengkategorikan jika < 0.15 kompetitif, 0.15-0.25 moderat, dan >0.25 konsentrasi tinggi
Analisis kerentanan untuk Indonesia dari tabel diatas dapat dilihat dari dua perspektif yakni tingkat ketergantungan impor terhadap kebutuhan domestik dan tingkat konsentrasi pemasok yang diukur melalui indeks Herfindahl–Hirschman (HHI). Kombinasi kedua indikator tersebut dapat memberikan gambaran awal mengenai komoditas yang paling rentan terhadap gangguan eksternal.
Dalam konteks konflik Iran melawan koalisi AS-Israel, beberapa komoditas memiliki tingkat risiko yang berbeda terhadap gangguan pasokan global.
Tabel 3. Tingkat Resiko Produk Hidrokarbon
Komoditas | Tingkat Resiko | Keterangan |
Gas | Resiko Tinggi | Ketergantungan nasional tinggi, LPG Asia banyak melewati Selat Hormuz |
Minyak Suling | Resiko Tinggi (indirect) | Ketergantungan nasional tinggi, kilang Asia dan Singapura kekurangan feedstock |
Sulfur | Resiko Tinggi | Negara teluk merupakan pemasok Sulfur global. Bagi Indonesia ini penting selain tingginya ketergantungan nasional juga merupakan bahan baku nikel dan produksi asam sulfat |
Ethylene polymers | Resiko Menengah | Ketergantungan nasional moderate. Namun sebagai catatan produk ini bergantung pada naphtha dari Timur Tengah dan berdampak pada produksi plastik. |
Minyak mentah | Resiko Rendah | Walau ada tingkat impor, namun pemasok untuk Indonesia beragam (paling besar dari Afrika) |
Amonia dan Urea | Tidak Terdampak Signifikan | Indonesia produsen besar domestik, jadi dampaknya kecil. |
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah potensi risiko apabila konflik terjadi di kawasan Asia Timur dan Laut China Selatan. Dalam skenario tersebut, beberapa komoditas yang sebelumnya relatif aman dalam konteks konflik Timur Tengah justru dapat menjadi lebih rentan. Salah satunya adalah ethylene polymers, yang distribusinya sangat bergantung pada jalur pelayaran internasional di kawasan tersebut. Gangguan terhadap jalur perdagangan dapat menghambat pasokan bahan baku bagi industri plastik dan manufaktur.
Risiko serupa juga dapat terjadi pada komoditas aspal dan minyak hasil penyulingan, terutama apabila terjadi gangguan atau blokade pada jalur perdagangan strategis seperti Selat Malaka yang merupakan salah satu chokepoint utama perdagangan global.
Dari sejumlah komoditas tersebut, dapat terlihat beberapa kerentanan struktural dalam rantai pasok Indonesia. Tingginya konsumsi LPG menunjukkan adanya risiko terhadap ketahanan energi nasional. Sementara itu, ketergantungan pada sulfur berpotensi memengaruhi industri nikel domestik, yang merupakan bagian penting dari program hilirisasi mineral serta rantai pasok baterai kendaraan listrik. Di sisi lain, ethylene polymers memiliki peran penting dalam rantai pasok industri manufaktur yang memproduksi berbagai produk konsumsi dan komponen industri.
Temuan ini menjadi pengingat penting bagi perlunya kebijakan yang mendorong diversifikasi sumber pasokan sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Upaya tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, yang menekankan peningkatan produksi migas domestik, percepatan transisi energi, penajaman subsidi energi agar lebih tepat sasaran, pemberian insentif fiskal, serta pengembangan energi baru terbarukan dan infrastruktur ketenagalistrikan sebagaimana disampaikan dalam pidato pengantar RUU APBN 2026 di DPR tahun lalu.

Di sisi lain, agenda transisi energi global juga berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar fosil dalam jangka panjang. Perkembangan teknologi kendaraan listrik, misalnya, mulai mengubah pola konsumsi energi dunia. Pada 2024, Tiongkok bahkan mencatat penurunan permintaan minyak untuk pertama kalinya dalam dua dekade, yang salah satunya dipengaruhi oleh pesatnya adopsi kendaraan listrik. Di Indonesia sendiri, pemerintah juga tengah mendorong proyek gasifikasi batu bara untuk menghasilkan Dimethyl Ether (DME) sebagai alternatif pengganti LPG impor.
Dalam perspektif ekonomi pertahanan, komoditas strategis seperti energi dan bahan baku industri tidak semata-mata dipandang sebagai komoditas perdagangan, tetapi juga sebagai bagian dari instrumen ketahanan nasional. Sejumlah penelitian, seperti yang dikemukakan oleh Khan (2023) dan Novikau (2023), menegaskan bahwa ketergantungan pada kawasan tertentu untuk pasokan energi dan bahan baku industri dapat meningkatkan kerentanan terhadap guncangan geopolitik.
Ketika sumber pasokan terkonsentrasi pada wilayah tertentu, gangguan politik atau konflik regional dapat berdampak langsung pada stabilitas industri domestik, termasuk sektor strategis seperti industri pertahanan. Oleh karena itu, diversifikasi sumber pasokan tidak lagi sekadar pilihan ekonomi, melainkan telah menjadi kebutuhan strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi, keberlanjutan industri, serta mobilitas ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global
Tentang Penulis

Arrozaq is an official from Coordinating Ministry for Economic Affairs - Republic of Indonesia in the field of economics, energy, and sustainability. As a senior policy maker, he commits for sustainability and the economy for the nation. Arrozaq has been certified as SDG Leader by UNDP, Australian Award, IMF, and other international forums.
Arrozaq is also active in Indonesia JCM Secretariat, which promotes low carbon development in Indonesia. Arrozaq graduated from ITB (Bachelor of Engineering), and got Master's from Mercu Buana University (Management) and Trisakti University (Economy). Arrozaq also plays roles as associates at Think Policy (Public Policy Think Tank).




Comments