top of page

Medan Perang AS-Israel vs Iran di Ruang Asimetris Tak Kasat Mata

Oleh: Fauzia G. Cempaka Timur dan Dion Maulana Prasetya

Fauzia G. Cempaka Timur adalah Senior Analyst pada Indo-Pacific Strategic Intelligence dan Dion Maulana Prasetya adalah Dosen Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang. Pandangan dalam opini ini adalah pribadi.

Di bawah layar gawai yang dipegang oleh jutaan warga sipil, saat ini tersembunyi sebuah jaringan senjata tak kasat mata yang berpotensi merusak dari dalam. Pada suatu hari di penghujung Februari 2026, dunia terkejut menyaksikan serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) ke negara Iran. Sirene meraung di berbagai wilayah, sementara medan pertempuran ini tidak lagi sekadar dibatasi oleh demarkasi wilayah fisik dan pertukaran rudal balistik.


Sebuah aplikasi doa (prayer app) yang sangat populer di Iran, Bade Saba, diduga diretas secara presisi oleh intelijen Israel dan AS. Pesan-pesan berbahasa Persia yang menyusup melalui notifikasi otomatis bertuliskan "bantuan telah tiba" ini menjangkau lebih dari lima juta pengguna yang telah mengunduh aplikasi tersebut. Iran merespons dengan memutus akses internet selama 36 jam, indikasi yang memperlihatkan betapa efektifnya serangan kognitif tersebut mengguncang stabilitas rezim.


Aplikasi yang sejatinya merupakan ruang spiritual tersebut diubah menjadi proyektil subversif, mengirimkan pesan-pesan yang secara langsung mendesak anggota Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk mengkhianati rezim. Ini adalah wujud nyata dari peperangan generasi ke-5 di era peperangan asimetris, ketika keunggulan teknologi dimanfaatkan sebagai sasaran bidik akan kelemahan psikologis lawan. Sebelum menghancurkan setiap jengkal fasilitas militer musuh secara fisik; fondasi untuk menghancurkan kohesi pikiran dan loyalitas prajuritnya telah lebih dulu dibangun dari dalam.


Dentuman bom mengguncang Teheran dan sejumlah kota di Iran, diiringi dengan retasnya jaringan komunikasi dan aplikasi keagamaan yang digunakan oleh jutaan warga. Israel, dengan dukungan penuh AS, telah dan sedang melancarkan operasi militer dan kognitif yang mereka sebut sebagai upaya "pencegahan" eskalasi nuklir dan dukungan terhadap proksi militan.


Serangan tersebut tak ayal merusak infrastruktur fisik, menewaskan pucuk kepemimpinan tertinggi Iran, melukai warga sipil, dan menciptakan atmosfer ketakutan baru di sebuah kawasan yang sudah lama tidak mengenal damai sejati.


Di balik klaim "pencegahan" dan "legitimasi keamanan" yang berulang itu, tersembunyi paradoks yang lebih mendasar. Analisis European Council on Foreign Relations (ECFR) secara tegas menyatakan bahwa perang ini adalah "perang tanpa pemenang" (a war with no winners) di mana setiap aktor yang terlibat akan meninggalkan konflik dengan kerugian yang lebih besar daripada saat mereka memasukinya. Tujuan AS sendiri tidak jelas dalam perang ini. Apakah ini soal pencegahan nuklir, pelucutan misil balistik, pembebasan rakyat Iran, atau pergantian rezim secara total.


Pola eskalasi ini bukanlah peristiwa tunggal. Perang 12 Hari pada Juni 2025 menjadi preseden penting bahwa narasi perdamaian masih jauh panggang dari api. Rangkaian sabotase, peretasan, dan operasi propaganda selama tahun 2024-2025 menunjukkan bahwa domain siber dan narasi bukan sekadar "pendamping", melainkan bagian inti dari desain konflik asimetris.


Maka, ketika konflik berulang dalam skala lebih besar melalui Operasi Epic Fury pada akhir Februari 2026, yang terjadi sesungguhnya bukan sekadar "bab baru", melainkan akselerasi dari pola lama yang menggunakan elemen kinetik, siber, dan kognitif berjalan serentak.


Paradoks paling mencengangkan dari serangan ini bukan hanya soal moralitas perang tetapi ilusi kontrol teknologi. Israel dan AS menggempur Iran dengan alasan menetralisasi ancaman milisi dan proliferasi nuklir. Namun cara yang ditempuh justru mengungkap sisi gelap peperangan abad ke-21: menang di udara tidak otomatis menang di pikiran, dan unggul teknologi tidak otomatis menghasilkan keunggulan legitimasi.


Konvergensi Perang Informasi

Untuk memahami apa yang sedang terjadi di Iran hari ini, kerangka information warfare Martin Libicki berguna karena memandang perang informasi sebagai mosaik operasi yang mengeksploitasi ruang informasi untuk menaklukkan lawan. Dalam agresi ke Teheran, mosaik itu terkonsolidasi dalam tiga kategori operasional yang saling melengkapi:


  1. Hacker Warfare (Perang Peretas): Eksploitasi dan serangan terhadap arsitektur sistem sipil maupun militer musuh.

  2. Psychological Warfare (Perang Psikologis): Penggunaan arus informasi untuk memanipulasi kognisi, persepsi, dan mentalitas lawan serta mengubah apa yang diyakini musuh sebagai kebenaran.

  3. Economic Information Warfare: Manipulasi dan dominasi ruang informasi untuk mengontrol narasi, sehingga berpengaruh terhadap ketahanan ekonomi, rantai pasok logistik, serta melemahkan sumber daya pertahanan musuh.


Peretasan Bade Saba menunjukkan indikasi perang semantik. Perang yang dilakukan terhadap kognitif tingkat tinggi, di mana yang dirusak bukanlah perangkat kerasnya, melainkan kepercayaan, rasa aman, dan interpretasi publik. Dalam perang semacam ini, ruang digital yang sakral dapat dipelintir memicu paranoia, delegitimasi, dan disonansi kognitif.


Strategi Dekapitasi Kepemimpinan dan Kontradiksinya

Puncak operasi gabungan antara serangan kognitif dan kinetik adalah operasi yang menargetkan simpul kepemimpinan tertinggi. Serangan yang dilaporkan menarget tokoh-tokoh kunci dan titik komando bukan sekadar operasi militer biasa, melainkan strategi dekapitasi yang dirancang untuk mengganggu konsolidasi penerus.


Segera setelah serangan kinetik tersebut terjadi, mesin perang kognitif Israel dan AS bekerja secara simultan untuk membanjiri ruang informasi dengan berbagai narasi yang memicu kepanikan. Tujuannya adalah untuk menghalangi konsolidasi kekuatan penerus, menciptakan faksi-faksi yang saling curiga antar-elit Iran, dan memutus rantai semangat tempur dari "Poros Perlawanan" (Axis of Resistance) di seluruh Timur Tengah.


Namun, strategi dekapitasi ini menyimpan kontradiksi. Analisis ECFR menunjukkan bahwa meskipun kehilangan figur puncak, aparat keamanan Iran, terutama IRGC, segera beralih ke sistem komando dan kendali terdesentralisasi untuk kondisi perang. Sistem ini dirancang justru untuk mengantisipasi skenario dekapitasi. "Kemenangan" dalam perspektif Iran bukanlah mengalahkan AS secara simetris, karena mereka sadar kalah dalam hal persenjataan, melainkan bertahan sebagai rezim dan menguras lawan hingga titik kelelahan (point of exhaustion).


Dilema Clausewitz dalam Domain Kognitif

Dalam merespons realitas peperangan asimetris ini, pemikiran abadi Carl von Clausewitz tetap relevan: perang adalah instrumen politik. Operasi siber dan militer yang canggih, betapa pun mematikannya, hanya mampu menciptakan kondisi bagi sebuah resolusi politik; ia tidak akan pernah bisa menggantikannya secara keseluruhan.


Pertama, jebakan teknologi militer (military trap). Membombardir Teheran dan meretas ruang sakral mungkin melumpuhkan fungsi komando sesaat, tetapi penghinaan kultural dapat menjadi inkubator radikalisme baru. Secara kuantitatif, Iran memang tidak memiliki kemampuan serang ke daratan AS. Opsi realistis Teheran adalah menekan target regional. Strategi ini memaksa AS bermain pada pertahanan yang mahal dan menguras pencegat (interceptor), sementara Iran beroperasi dekat teaternya sendiri.


Kedua, jebakan legitimasi kognitif (legitimacy trap). Ketika warga sipil dan arsitektur digital dikategorikan sebagai "medan perang", aspek jus in bello dalam Hukum Internasional ikut tergerus yang mengakibatkan privasi melemah, pembenaran pengawasan massal menguat, dan negara berpotensi makin represif atas nama keamanan.


Ketiga, jebakan legitimasi domestic (domestic legitimacy trap). Serangan ke Iran berpotensi membelah basis politik Presiden Trump; sebagian suara dalam spektrum MAGA menilai keterlibatan konflik luar negeri bertentangan dengan janji kampanye "tidak terjerat perang asing". Pada titik ini, perang informasi tidak hanya menyerang musuh, tetapi memukul kohesi politik domestik penyerang.


Lonceng Peringatan bagi Indonesia

Apa yang menimpa Iran adalah peringatan eksistensial bagi Indonesia. Sebagai negara dengan pengguna internet dan media sosial yang masif, serta keragaman sosial yang tinggi, lanskap kognitif masyarakat kita sangatlah rentan untuk dieksploitasi oleh operasi informasi asing.


Perang masa depan tidak selalu membutuhkan invasi armada kapal induk di perairan Indonesia. Musuh dapat mengeksploitasi celah identitas, menyusupi aplikasi keseharian warga, menyebarkan disinformasi yang merusak kepercayaan publik terhadap institusi negara, lalu membiarkan masyarakat saling menghancurkan dari dalam. Ini adalah perang kognitif yang sejati: menjajah pikiran sebelum menaklukkan daratan.


Indonesia perlu meredefinisi Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) untuk mengintegrasikan domain kognitif sebagai palagan utama yang harus dipertahankan. Kebijakan pertahanan perlu menjalankan secara beriringan aspek modernisasi alpalhankam fisik dengan ketahanan digital, literasi informasi masyarakat dan kedaulatan atas teknologi sipil yang bersinggungan langsung dengan persepsi ratusan juta warga.


Indonesia, dengan segala kerentanan dan potensinya, harus menjadikan konflik ini sebagai cermin: pertahanan negara di abad ke-21 bukan hanya soal alpalhankam yang canggih, tetapi juga soal ketahanan pikiran bangsa.


Note: Pandangan dalam opini ini adalah pribadi dan artikel telah diterbitkan di halaman SINDOnews.com

bottom of page